Ustadz Unknown |

RIBA


Riba adalah secara bahasa (etimologi) artinya tambahan. Adapun yang dimaksud oleh syari’at, Riba adalah :

الزِّيَادَةُ فِيْ أَشْيَاءٍ مَخْصُوْصَةٍ

Tambahan pada sesuatu yang khusus (Ar-Riba Adhraruhu Wa Atsaruhu, Syaikh Sa’id bin Wahf Al-Qahthani), maksudnya tambahan yang diharamkan oleh syari’at.

. Riba merupakan salah satu dosa besar yang pelakunya diancam dengan laknat. Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata;

لَعَنَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

“Rasulullah a melaknat pemakan riba, pemberi makannya, penulisnya, dan kedua saksinya.” Dan beliau bersabda, “Mereka itu sama ( HR. Muslim : 1598).

Riba memiliki tujuh puluh tiga pintu dan pintu yang paling ringan adalah seperti seorang menzinai ibunya. –wal’iyadzubillah- Diriwayatkan dari ‘Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam , beliau bersabda;

اَلرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ.

“Riba (memiliki) tujuh puluh tiga pintu. Yang paling ringan adalah seperti seorang menzinai ibunya. Dan yang paling berat adalah (seperti) orang yang mencemarkan kehormatan seorang muslim.” (HR. Hakim Juz 2 : 2259. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ : 3539)

Riba juga merupakan salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah y, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda;

اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ اَلشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ.

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh allah q kecuali dengan alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang terjaga kehormatannya dan jauh dari maksiat dengan perbuatan zina.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari : 2615 dan Muslim : 89).

Dan orang yang memakan riba, maka kelak pada Hari Kiamat akan dibangkitkan seperti orang yang kesurupan. Allah Ta'ala berfirman;

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لَا يَقُوْمُوْنَ إِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang memakan riba mereka tidak dapat berdiri (pada Hari Kiamat) melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (tekanan) penyakit gila.” (QS. Al-Baqarah : 275 )

Sehingga dengan demikian orang yang beriman diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk menjauhi riba. Allah Ta'ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum diambil) jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Jika kalian tidak meninggalkan (sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari mengambil riba), maka bagi kalian pokok harta kalian, kalian tidak menganiaya (diri sendiri) dan tidak pula dianiaya.” (QS. Al-Baqarah : 278 – 279)